Menegakkan Kepala

Aku tahu, kesempatan untuk mendekati Rusnita masih terbuka lebar. Hanya karena kebodohanku semuanya jadi terlihat pesimis dan sempit. Aku sadar dan tahu itu, tapi aku tak melakukan apa yang semestinya kulakukan untuk mendekati Rusnita. Itulah alasan mengapa diriku menghakimi diri dengan kata ‘bodoh’.

Kemarin 21:15, aku pulang dari kampus lebih cepat dari biasanya. Lebih dulu pulang ketimbang Rusnita, sehingga melewatkan dia pamitan pulang. Sebenarnya aku masih ingin berlama-lama di UKM, menunggu Rusnita pulang terlebih dahulu.

Diluar ruangan aku hanya bisa mendengar suara candanya dan permainan gitar teman-teman lainnya. Aku sudah berusaha mencoba untuk menunggu sampai dia pulang, ternyata tak bisa. Aku menyerah. Aku tak tahan dengan situasi saat itu, keceriannya yang tak mampu aku imbangi.

Aku menyerah, akhirnya aku memilih pulang dari kampus. Aku telah menjadi pecundang malam tadi. Tapi aku tetap bangga, setidaknya sebagai orang yang jujur dan berani mengakui kekalahan.


tinggalkan jejak...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s