Bos adalah Mantan Bos

Kemarin pagi, saat persiapan tukar sift kerja. Orang kepercayaan Bos mendekatiku, darinya aku memperoleh kabar bahwa Si Bos memintaku untuk berhenti bekerja dulu. Jumlah pemasukan yang kurang menjadi alasan mengapa aku harus ‘libur’. Efisiensi biaya mungkin. Orang kepercayaan si Bos menyampaikan bahwa jika situasi sudah kembali maka aku dapat kembali kerja.

Dengan resignnya diriku, selain menjadi kado ulang tahun dipagi hari juga tak perlu lagi diriku mengusulkan sift baruku juga mengukuhkan diriku tak akan kembali bekerja disini, aku akan mempertimbangkan penawaran Pakboz.

Apakah diriku sakit hati dengan keputusan Bos? tidak. Malah semakin menguatkan diriku tak menyesal telah memutuskan hubungan kontrak kerja. Diriku hanya menyayangkan sikap Bos yang pengecut, tak bisa terbuka dengan karyawan (aku). Memutuskan status kerja melalui orang lain menurutku adalah suatu kepengecutan. Terlebih Bos jarang turun dari mobil saat mengunjungi tempat kerja, lebih banyak anaknya menghampiri kantor atau orang kepercayaan menghampirinya. Entah, yang pasti aku tak sakit hati denga keputusan, hanya menyayangkan sikap.

Selamat tinggal bos…


tinggalkan jejak...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s