Bukan Cerita Sate Kambing

SMS yang aku kirim ke Rusnita tadi siang belum juga ada balasan. Aku berencana malam ini berkunjung kerumahnya. Menjelang magrib aku coba SMS lagi, menanyakan apakah malam ini dia ada acara keluar? seperti bertaruh dengan diri sendiri apakah Rusnita akan membalas SMS. Beberapa hari ini dia nggak pernah balas SMS dariku, dan aku tak berharap banyak jika SMSku ini akan dibalas.

Ternyata dugaanku salah, Rusnita membalas pesanku. Dia bilang tak kemana-mana sedang tak enak badan dan ingin beristirahat saja. Aku menawarkan bagaimana kalo aku datang kerumahnya, namun dia menolak dengan halus. Aku sudahi SMS sore itu berpesan agar beristirahat dan semoga cepat pulih.

Martabak VS Sate Kambing
Sudah beberapa kali aku melewatkan sabtu malam (malam minggu) tanpa Nita, terakhir minggu kemarin saat libur Natal. Paginya dia pergi bersama teman-teman ke Jepara dan sampai rumah malam, dia pun menolakku untuk datang berkunjung karena menurutnya sudah terlalu malam.

Rasanya malam ini aku ingin nekat kerumahnya meski tadi dia sempat menolak. Aku ingin bawakan martabak kesukaannya, bertemu sebentar dan pamit pulang. Dia tak mungkin menolak orang yang sudah datang didepan pintu.😀

Saat menyusun rencana untuk kerumahnya, dari status twitternya dia sedang pengen Sate Kambing. Kebetulan nih, aku bisa bawain Sate Kambing kerumahnya. Eh.. aku malah jadi bingung beliin Sate Kambing atau Martabak. Didekat jalan menuju rumahnya ada penjual Sate Kambing tempat biasanya Nita beli, aku pernah nemenin dia beli.

Memang kemungkinan besar dia mau beli Sate Kambing, tapi aku berasumsi mungkin saja dia males turun. Jalan menuju rumah Nita menanjak jadi harus turun kalo mau beli Sate Kambing.

Bermodal cuci muka langsung nyamber motor dan menuju Sate Kambing di daerah Kelud, Sampangan. Aku pesan satu porsi dan memilih menunggu diluar. Sekitar 20menitan pesanan jadi, akupun menuju rumah Nita.

Saat lewati tanjakan menuju rumah Nita aku sempat sedikit ragu, nekat aja ah pikirku. Aku parkir dihalaman rumah kosong didepan rumahnya, biar nggak mencolok.

Didepan pintu yang kebetulan kebuka aku ngucapin salam, tak lama kemudian gordyn pembatas ruang tamu terbuka pelan-pelan, ”Nita-nya ad…..a?” kalimatku sempat menggantung lama, aku kira yang buka kakaknya ternyata Nita sedang gendong keponakan.

Agak sedikit kaget dengan kedatanganku, aku hanya sampaikan ini buat dia maem dan pamitan pulang. Dia bilang sudah makan Sate Kambing, rupanya tadi sudah beli sendiri. Dimaem ponakan aja gak apa-apa kataku. Aku pun berpamitan pulang.

Bukan soal Sate Kambing atau Martabak, karena aku sudah bisa bertemu dengan Nita. Dia nampak sedikit pucat dengan rambut masih acak-acakan, tapi jujur dia tetap terlihat cantik.

01.01.2011


tinggalkan jejak...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s