Dan Aku Semakin Tersayat

Melihat orang yang kita cintai dapat tersenyum dan tertawa lepas adalah kebahagiaan tersendiri. Segala sesuatu terasa sempurna, dan tak ternilai jika harus ditukar dengan nominal berapapun.

Semuanya berbeda jika senyum dan tawa itu bukan ditujukan kepada kita, tapi orang lain. Hati tersayat-sayat dan merasa menjadi orang yang tak berguna, mungkin ini yang akan dirasakan.

Itu yang aku alami ketika melihat orang yang ku suka dapat bercanda lepas dengan orang lain. Sedangkan tidak pernah terlihat bagaimana dia ceria dihadapanku. Jika harus intropeksi diri, mungkin aku kurang hangat dimatanya. Intinya kami –aku dan dia- tidak memiliki titik temu keintiman dalam komunikasi. Aku bisa menerima itu.

Yang masih mengganjal hingga sekarang adalah pria yang dapat membahagiakannya adalah temanku sendiri. Cemburu? Tidak, ini lebih dari sekedar rasa cemburu. Aku merasa sakit hati karena menjadi korban tikung, seolah ditikam dan ditusuk dari belakang. Tak menyangka perempuan yang kusuka berpacaran dengan teman sendiri.

Memang tak salah mencintai, yang belum aku terima adalah mengapa teman sendiri yang menikam dari belakang.

Tawa lepas yang kudengar malam ini terasa sangat menyayat, terasa mengejek dan menertawai ketidakmampuanku. Sehingga aku lebih memilih pergi menjauh seperti pecundang kalah. Semakin jauh kumelangkah semakin keras suara tawa itu. Dan aku semakin tersayat.


tinggalkan jejak...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s