Hobby Baru

Saya memiliki hobby baru, sebetulnya bukan baru. Sebelumnya saya juga sering melakukannya. Hobby apa? misuh. Ya, akhir-akhir ini saya sering misuh atau mengumpat dengan kata ‘asu’. Sebuah umpatan yang sebetulnya saya sadari tak pantas untuk diucapkan, terlebih di tempat umum atau orang banyak.

Saya sadari itu, tapi seolah menjadi kebiasaan saya akan reflek misuh jika dihadapkan dengan sesuatu yang sangat menjengkelkan. Saya termasuk orang yang jujur. Saya akan mengatakan apa adanya, tanpa filter. Sehingga saat ingin memaki maka memakilah saya. Bukan hal yang bagus memang, tapi itulah saya yang ‘terlalu jujur’.

Apa yang membuat saya hobby misuh akhir-akhir ini? Baik, karena saya jujur saya akan blak-blakan. Jika nanti ada yang kurang berkenan itu hak Anda. Saya gak akan meminta maaf, karena menurut saya ini bukan sebuah kesalahan. Saya sudah memberikan Anda hak untuk menyalahkan, so jangan paksa saya untuk meminta maaf.

Suasana di kampus benar-benar gak nyaman, saya selalu muak jika melihat mantan gebetan™. Seolah menyimpan dendam yang tak termaafkan. Jika dibilang dendam, saya katakan tidak ada kata dendam. Buktinya, pernah disuatu kesempatan saya masih bisa bercanda dengannya. Waktu itu statusnya sudah mantan gebetan™. Masih bisa bercanda dan obrolan mengalir. Nah, bagi saya ini cukup bukti kalo saya tidak dendam. Dendam itu capek bro!

Ada kebakaran jika ada yang menyulut api. Pun saya misuh karena ada hal yang membuat benar-benar jengkel. Apa yang membuat saya jengkel dengan mantan gebetan™? salah satunya adalah sikapnya yang menurut saya tidak bisa menerima kenyataan. Bukannya kamu el yang gak nerima kenyataan? yup, saya memang sedikit kaget dengan kenyataan bahwa mantan gebetan™ resmi berpacaran dengan teman saya sendiri. Itu keadaan yang membuat saya kaget, tapi itu bukan alasan kenapa saya muak dengan mantan gebetan™.

Mantan gebetan™ tidak bisa menerima kenyataan seperti apa? saya pernah mengatakan bahwa hidup itu adil, jika rela dan senang ketika ada orang yang mencintai kita, pun kita harus rela dan menerima jika ada yang membenci. Itu yang membuat saya jengkel. Just it.

Lantas apa yang membuat dia tidak menerima kenyataan? Tunggu dipostingan berikutnya.🙂


tinggalkan jejak...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s