Melewati Sebuah Fase

Tadi sore saya berkirim kabar dengan teman semasa kecil sewaktu di Pangkalan Bun, sebuah kota di Kalimantan Tengah. Nama panggilannya Us, saya lupa nama panjangnya, yang pasti dia seorang perempuan. Sekarang Us bekerja disebuah Bank di Sukamara, 7 jam perjalanan darat dari Pangkalan Bun, dan 3-4 jam perjalanan jika ditempuh dengan speedboat.

Ternyata Us satu kerjaan dengan Adhi, teman di sekolah asrama dulu. Us pun tak menyangka ternyata Adhi juga mengenal saya. Masa kerja Adhi sudah satu tahun, dia akan pindah ke Pangkalan Bun. Agar lebih dekat dengan perempuan asal Sumatera yang kini telah menjadi istrinya dan bekerja di RSUD.

Meski tak begitu dekat dengan Adhi tapi saya cukup mengenal baik. Tak menyangka Adhi telah menikah. Adhi adalah salah satu dari sekian teman-teman saya yang telah bekerja dan menikah, bahkan diantaranya sudah memiliki anak. Tedy dan Fahrina misalnya, berdua sama-sama teman kami sekolah. Mereka mulai pacaran di tahun terakhir sekolah, dan menikah saat lulus. Keputusan yang saat itu saya anggap hebat, karena selain sudah memutuskan menikah mereka juga melanjutkan ke jenjang kuliah. Kini mereka tinggal di Banjarmasin, mereka telah dikaruniai satu anak perempuan. Entah sekarang sudah bertambah atau belum.

Biasanya saya tahu kabar teman menikah melalui undangan di Facebook. Dan tak satupun bisa saya penuhi, semua disebabkan karena jarak. Bandung, Jakarta, Tangerang, Padang, Medan, Jember, Mataram dll rasanya cukup jauh dari Semarang. Tanpa mengurangi rasa hormat, kehadiran yang digantikan ucapan selamat dan do’a saya rasa sudah bisa mewakili.

Sebagian besar dari teman-teman saya telah atau sedang melewati fase kehidupan, kerja dan menikah. Melihat kenyataan, ada perasaan sedih muncul pada diri sendiri. Disaat mereka sudah memikirkan karir dan rumah tangga, saya masih berkutat di kampus. Menyelesaikan skripsi yang belum selesai.

Saya masih beranggapan skripsi adalah hal yang masih membelenggu, bukan dalam artian negatif. Ini adalah fase yang harus saya lalui yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, yang tak bisa berkompromi dengan fase lebih lanjut. Saya pernah kuliah sambil kerja, tapi akibatnya kuliah saya sedikit keteteran. Saya tak menganggap kuliah sambil kerja tak efektif, hanya saya saja yang tak bisa melakoninya dengan baik.

Harapan saya, semoga saya bisa melewati sebuah fase yang dinamakan skripsi. Sebuah fase yang pernah menyebabkan saya depresi. Skripsi /Ijazah /wisuda bukan segala-galanya, saya menyelesaikannya atas dasar sebuah tanggung jawab. Goodluck El.

Semarang, 26 Desember 2011


tinggalkan jejak...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s