Merindukan Rumah

AC didalam KRL sangat dingin, membuatku semakin merapatkan kancing jaket. Iya, itu hanya reflekku saja. Karena aku tahu jaketku tetap tak mampu melawan dinginnya AC di segala penjuru kereta.

Menjalani rutinitas sebagai PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad) membawa kesan dan cerita sendiri. Tukar cerita dan obrolan dari teman seperjalanan yang selalu berganti.

Tetiba aku merindukan sebuah rumah. Aku merindukan tempat nyaman, nyaman bukan berarti harus seempuk kasur hotel berbintang. Tempat yang nyaman sekedar untuk meluruskan badan, diiringi sepoi-sepoi angin yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Atau sepoi-sepoi yang lebih merdu dari yang pernah kunikmati.

Hakikat kehidupan adalah menempuh perjalanan dan melakoni ‘kehidupan’ yang sedang dijalani. Kehidupan bukan sekedar saat bernafas di dunia. Untuk anakku yang sedang dalam kandungan, sesungguhnya engkau sudah menjalani kehidupan nak🙂

Abah dari aku dan adik-adikku pun sedang menempuh perjalanan meski didunia yang tak bisa kami sentuh. Tapi aku membuktikan abah masih hidup dihati istri dan kami anak-anaknya.

Setiap orang pasti memiliki hati untuk pulang. Ada rumah tempat dimana hati ingin pulang.


7 thoughts on “Merindukan Rumah

tinggalkan jejak...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s