Meredam Amarah

Ada perasaan berkecamuk saat perjalanan pulang kerja hari ini, namun fikiran harus tetap tenang agar tidak terjadi apa-apa dijalan. Gemuruh ini masih menyelimuti hati, ibarat pepatah tak ada asap jika tak ada api, tak ada arang satepun tak jadi. Menginfo dan menagih invoice adalah tugas dominan dari pekerjaan saya sekarang, ini adalah hal baru bagi saya selama 2 bulan 2 minggu sejak saya bekerja di kantor yang sekarang.

Walau ada konsekuensi yang harus saya tanggung sejak keluar dari perusahaaan lama, hari kerja yang menjadi enam hari, mudik ketemu anak istri kini kurang dari 24 jam, itu lain hal.Saya tidak mengeluhkan jenis pekerjaan ini. Ini pekerjaan baru yang ingin saya nikmati.

Sore tadi, seperti biasa saya menginfo tagihan ke salah satu owner via chat, ada miss yang bukan salah dealer dan juga bukan saya yang benar. Akhirnya saya menghubungi owner tersebut via telpon.

Saya ceritakan kronologinya saya ceritakan apa adanya senetral mungkin, tanpa menyudutkan pihak pertama, kedua dan ketiga. Namun tetap pada kesimpulan ‘saya salah’, yups saya mengakui salah karena bagaimanapun ini tugas saya, sayapun sudah meminta maaf. Tapi bukan hak owner juga untuk mengintimidasi saya secara verbal, bahkan berujung pada penghinaan profesi saya.

Ada jeda sesaat setelah mendengar ‘hinaan’ tersebut, saya mengambil nafas dalam-dalam. Rasanya ingin menumpahkan ketidakterimaan saya. Syem! peran saya saat ini adalah kacung, sehingga saya harus menjaga sikap dan nada bicara demi nama baik instansi. Secara personal saya akan menyanggupi jika hal ini diselesaikan one by one, dengan cara diplomasi atau cara apapun saya ladenin.

Apalagi lawan bicara ada diseberang telpon, jika ada diseberang meja lain cerita. Fikiran dan hati terus berkecamuk, tak ayal terlintas sebuah doa agar suatu saat si fulan merasai bagaimana harga dirinya terinjak-injak, astaghfirullah.

Tak baik rasanya mendoakan sesuatu hal yang tak baik, walaupun saya direndahkan didepan manusia lain, diri ini tak ada apa-apanya dihadapan Sang Pencipta. Hanya hamba yang lemah namun pongah. Motor yang kupacu sudah memasuki ujung gang, jalannya menanjak menuju rumah.

Akupun hanya mampu berdoa ‘Ya, Allah jadikan aku, keluargaku dan keturunanku hamba yang tak pernah memandang rendah profesi orang lain, dan tetap bangga (syukur) dengan profesinya sendiri. Untuk anakku. Nak, tetaplah bangga (bukan sombong) dengan profesi Abah Mama-mu ya, jangan hina profesi orang lain’.

Dalam doa di Maghribku tadi, ada rasa yang belum tuntas. Disatu sisi ingin berdamai dengan amarah, disatu sisi masih terus terngiang ‘hinaan’ tersebut. Ya Allah ikhlaskan aku, redakan amarah ini. Jika yang ia lakukan adalah sebuah khilaf, sadarkan orang tersebut dengan cara-Mu. Karna Engkau Maha Bijak.

Note: Memang berisiko curcol tentang pekerjaan dalam sebuah catatan pribadi, tapi ini bukan tentang kebencian saya terhadap profesi dan instansi dimana saat ini saya bernaung. Saya faham konsekuensinya 🙂 Untuk dirimu yang pernah merendahkan saya, ______ __! 🙂
Advertisements

12 thoughts on “Meredam Amarah

    • elafiq says:

      iya mas, ada skala masalah dimana harus diam bersabar atau bertindak 😀
      sebaiknya-baiknya bersabar lebih baik tidak ada kalimat yang menyakiti #hahaha

    • elafiq says:

      awakmu malah kuwat lho, kuwat menahan amarah 😀
      selama iso ngalah sih kalem sik, yen ngelunjak langsung lhas lhes sat set, leboke galon, glundungke gorong2.

tinggalkan jejak...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s